Peringatan ygy, meskipun fakta medisnya uda dicek, tapi ini bukan artikel ilmiah. Selamat menikmati.
Dongeng influenza? Menarik ga si menurut kalian? Wkwkw.
Aku coba giring imajinasi kalian pelan pelan ya.
Jadi alkisah di sebuah kerajaan bernama Hubut, hiduplah segerombolan scientist hebat. Gerombolan itu bernama Dendritic Cell. Hehe, namanya terlalu “nge-dokter” banget ga si? Hmm...nextnya kita panggil Dr. Dendri aja yak.....aaaa, what a cute name.
Nah jadi Dr. Dendri dan ribuan saudaranya merupakan ilmuwan sekaligus mata-mata kerajaan. Mereka berpatroli di sekitar pintu masuk kerajaan (saluran pernapasan). Sebuah kompleks vital di mana orang berlalu lalang.
Buat apa si dia di sana? Tugasnya nyegat pasukan musuh ya? Kok gabut banget? Gajinya berapa sih? Sukarela ya?
Sabar gais…sabar gaiss…satu satu yaa…
Dr. Dendri bukan admin sosmed yang ngerangkep semua kerjaan ya gaiss. Dia dibantu oleh Mucus dan Cilia.
Nah jadi misal nih ada musuh yang mencoba masuk. Mucus menyergapnya dan Cilia menendang pantatnya keluar gerbang. Tapi sehebat apapun Mucus, tidak semua musuh berhasil dihalangi di pintu gerbang.
Nah buat hari ini kita fokus ke pasukan musuh bernama virus Influenza. Sebenernya virus ini menarik, dulu di tahun 1918 kerabat dari nenek moyang mereka bernama H1N1, diperkirakan berhasil menumbangkan puluhan juta nyawa manusia.
Hari ini, cucu-cucu virus mematikan itu sedang bergerak menuju kerajaan. Biar lebih enak, virus influenza selanjutnya akan kita panggil, “Pasukan Ejak”
Pasukan Ejak yang berhasil lolos dari Mucus lalu menempel di dinding terowongan kerajaan (dinding pernapasan). Adaptasi ribuan tahun Ejak menghasilkan semacam Kail Ajaib (Protein hemagglutinin). Bayangkan kail-kail ini seperti tali perompak yang diayunkan ke kapal target. Nah bedanya target mereka adalah batu-batu menonjol yang bisa mereka cengkram (Sialic acid).
Apakah tonjolan itu sengaja di situ biar musuh musuh bisa nempel dan susah dikeluarin?
Engga dong.
Adaptasi Pasukan Ejak lah yang pada akhirnya melihat batu-batu benjolan itu sebagai perantara yang bisa mereka manfaatkan.
Di dalam terowongan ini sebenernya sudah dirancang biar pasukan musuh ga bisa dengan mudah masuk. Kondisinya udah mah lembab, berlendir, trus anget pula. Nah tapi beberapa Ejak yang udah nempel di sana mencengkeram batu-batu itu dengan erat. Gamau dong usaha mereka sia-sia, takut nanti kalo balik kampung diomongin tetangga.
Di tengah gempuran lendir, Ejak terus mempertahankan posisinya. Usaha mereka akhirnya terbayar ketika beberapa prajurit menemukan mereka, masing masing dari mereka diberi Kereta Gelembung (Endosome).
Nah ini sebenernya part yang bikin aku takjub. Jadi Kereta Gelembung itu udah dirancang kayak sebagai ruangan buat interogasi tamu. Nah ruangan ini punya sistem canggih untuk perlindungan jika ternyata tamu yang masuk adalah musuh jahat. Ruangan di Kereta Gelembung itu akan jadi sangat asam dan..pufff, musuh bisa dicegah dan hancur.
Nah tapi…kejadiannya bukan seperti itu.
Kondisi asam itu ternyata melunakkan lapisan luar Ejak. Lalu bukannya hancur, Ejak justru mulai memperlihatkan tangan-tangan serabut yang mencengkeram dinding gelembung. Cengkeraman itu semakin kuat dan pada akhirnya Kereta Gelembung justru menjadi tempat monster itu menetas.
Ejak kemudian melepas delapan tangannya (paket RNA).
Tangan Ejak mulai bergerak melewati lorong-lorong kecil, mencari jalan menuju Kantor Administrasi Kerajaan. Mereka menyelinap masuk ke dalam dan bersembunyi di balik tumpukan surat yang siap diantar ke penjuru kerajaan. Tangan-tangan itu pun menyentuh tumpukan surat itu. Mereka memilah target surat, merobek kop surat dan menyambungnya lagi dengan kertas-kertas palsu dari mereka.
Ketika surat itu dihantarkan, kepala departemen tentu saja mengira itu adalah surat resmi kerajaan. Seperti yang terjadi di Dapur Kerajaan (Ribosom). Koki-koki di sana yang mendapatkan surat berisi menu hari ini segera mencampurkan bahan sesuai dengan pesan (Protein Influenza), termasuk suplemen untuk kepala-kepala kerajaan.
Jadi tanpa mereka tahu, benda yang mereka racik itu merupakan bahan-bahan yang nantinya jika digabungkan bisa menjadi Ejak-Ejak baru. Setelah menjadi virus yang utuh, mereka menyusupi departemen lain. Alhasil, pabrik-pabrik baru pun bermunculan.
Pihak kerajaan segera menaikkan status daruratnya. Mereka menyalakan obor-obor di menara, menyebarkan sinyal bahaya ke seluruh penjuru kerajaan. Gerbang kerajaan ditutup, jendela-jendela besi dipasang, warga-warga mulai dibatasi untuk tidak berkeliaran dulu.
Di masa ini, tubuh kita menjadi berat, tenaga seakan hilang, nafsu makan menurun, dan suhu mulai naik. Menarik kan? Ironisnya, sebagian besar rasa lemas yang kita alami justru bukan ulah virusnya secara langsung. Tapi mekanisme tubuh yang mulai menyalakan alarm di tubuh kita.
Lalu kenapa tubuh membiarkan virus itu menyebar? Kenapa ga langsung dicegah si dari awal? Katanya tubuh manusia hebat?
Nah jadi, kalau kalian inget sama Dr. Dendri yang kita bahas di awal? Sejak pertama kali terjadinya penyusupan, kawan kita yang satu ini ternyata sudah curiga ada yang gak beres.
Dia mengumpulkan potongan-potongan bukti, robekan-robekan kertas di berbagai departemen kerajaan menguatkan dugaannya. Bersama pasukan patrolinya mereka mendatangi pos di mana Ejak bermarkas.
Selayaknya seorang ilmuwan, Dr. Dendri mengumpulkan jejak kaki atau apa pun itu yang terindikasi sudah terinfeksi Ejak, lalu mengambil foto-foto bukti (Antigen). Foto-foto yang sudah terkumpul dicetak dan dibingkai dengan plastik khusus (MHC). Jadi ketika akhirnya alarm kerajaan berbunyi, Dr. Dendri sendiri sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk dilaporkan ke Pusat Militer Kerajaan (Kelenjar Getah Bening).
Kalian yang udah baca sampe sini gabut banget yak? Wkwkw. Yaudah karena udah nanggung banget, aku persembahkan pertempuran finalnya.
Pusat Militer Kerajaan menaikkan level keamanan sejak alarm berbunyi. Beberapa pos terdekat dari pusat infeksi sudah disiagakan. Mereka bahkan sudah mengirim pengawal untuk membuka jalan agar Dr. Dendri bisa segera membawa foto-foto sampel virus.
Dr. Dendri memutuskan untuk pergi ke pos militer di Leher karena alasan strategis. Sampai di sana, dia memajang foto itu di depan ribuan prajurit perang berpengalaman (T-Cell). Prajurit itu sendiri memiliki kemampuan berbeda-beda dalam mengenali wajah musuh.
Baris pertama melihat foto itu.
Tidak cocok…
Dr. Dendri berjalan ke baris ke-2
Tidak cocok juga..
Hingga di baris ke sekian ribu, akhirnya Prajurit yang cocok mulai maju. Dia melihat foto itu, mengingatnya lalu memperbanyak diri secara besar-besaran. Jutaan pasukan dengan kavaleri lengkap pun terbentuk.
Di momen ini, kerajaan akhirnya tahu musuh mereka.
Ejak yang sudah dikenali tidak punya pilihan selain menutup rapat pintu departemen yang sudah mereka jadikan pabrik. Namun, prajurit bergerak taktis, disisirnya sudut kerajaan itu. Satu ketemu. Hancurkan. Satu lagi ketemu, bakar habis. Prajurit itu bergerak tanpa ampun, bahkan departemen yang bahkan baru saja mulai dijadikan pabrik pun langsung diporak-porandakan.
Gerombolan Ejak yang masih selamat berpencar mencari rumah baru. Sementara itu, kerajaan mengalami kebakaran hebat di banyak titik.
Jadi mungkin kalau besok-besok kalian kena flu dan rasanya tenggorokan dan hidung ga enak banget. Itu berarti peperangan sedang terjadi, sakit memang, tapi bahkan tanpa kamu suruh, prajurit itu mengorbankan hidupnya untuk melindungi kamu. Anjay, tapi ceritanya belum habis lo yaaa.
Di bagian lain di Pusat Militer, Dr. Dendri juga sudah mengunjungi Tukang Besi Kerajaan (B-Cell). Mereka membuat senjata dan jebakan yang cocok dengan foto musuh. Rencana pun disusun, tak lain untuk membuat senjata dan jebakan untuk mencegat musuh yang mencari rumah baru. Tukang besi ini bergerak beriringan dengan penumpasan musuh yang dilakukan prajurit perang.
Kerja sama itu membuat Ejak mulai kehilangan kemampuan berkembang. Kerajaan perlahan-lahan menurunkan level siaganya. Ejak yang udah kadung bersembunyi memang perlu waktu untuk dicari. Tetapi selama proses itu, kerajaan juga sudah mulai melakukan recovery, bekas bekas kebakaran dibersihkan dan dibangun ulang.
Heroik bukan? Banyak hal luar biasa yang sebenarnya akan terlalu panjang untuk diceritakan. Soal inflamasi, nafsu makan, lendir saat flu, atau peran vitamin C dalam proses penyembuhan.
But i think i’ll skip ahead into the most important part.
Memori.
Setelah peperangan berakhir, Prajurit sudah tidak perlu memperbanyak diri lagi. Banyak dari mereka gugur dalam perang. Tetapi sel-sel yang masih hidup terus mengingat kejadian yang menewaskan saudara-saudara mereka.
Mereka menyimpan wajah-wajah virus itu di dalam memori. Dalam waktu dekat ini, musuh-musuh dengan wajah yang mirip akan langsung dikenali dengan mudah oleh kerajaan.
Tapi di luar sana, Ejak-Ejak lain dengan wajah dan sifat yang berbeda masih berkeliaran.